Pembiasaan Diri dalam Kebutuhan
Kebutuhanmu sebagai manusia tidak pernah ada habisnya, padahal alam yang menyediakan semuanya punya keterbatasan.
Karena itu, muncullah konsep pembangunan berkelanjutan. Konsep ini mengajak kita memenuhi kebutuhan hari ini tanpa merusak lingkungan. Dengan begitu, hidupmu sekarang tetap nyaman, dan alam masih utuh untuk anak cucu nanti. Singkatnya, kamu boleh menikmati alam, tapi jangan sampai menghabiskannya.
Dulu, pembangunan berkelanjutan sempat dianggap merepotkan. Banyak orang menilai konsep ini sulit dipahami dan bikin pembangunan, terutama ekonomi, jadi lambat. Barulah pada 2015, lewat Deklarasi Sustainable Development Goals (SDGs), negara-negara di dunia mulai serius memandang pentingnya pembangunan berkelanjutan. Sejak saat itu, semua orang sepakat menjaga alam sambil tetap membangun.
Pembangunan berkelanjutan punya ciri khas yang membedakannya dari pembangunan biasa. Setiap tindakan harus memperhitungkan dampaknya bagi kesehatan dan kelestarian alam. Manusia juga didorong memakai sumber daya alam secara bijak, bertanggung jawab penuh terhadap alam, dan ikut menjaganya dalam setiap kegiatan sosial maupun ekonomi. Selain itu, kamu perlu terus meningkatkan kualitas diri agar mampu menguasai teknologi dan memanfaatkan alam dengan efisien.
Dari deklarasi SDGs lahir 17 tujuan pembangunan berkelanjutan yang dikelompokkan ke dalam empat pilar. Pilar sosial fokus pada kesejahteraan masyarakat, sedangkan pilar ekonomi mengutamakan pertumbuhan yang ramah lingkungan, penuh kerja sama, dan inovatif. Pilar lingkungan mencakup alam di darat dan di air, lalu pilar tata kelola berhubungan dengan perdamaian, keadilan, dan lembaga yang kuat. Keempat pilar ini saling berkaitan, misalnya menjaga lingkungan ternyata berkaitan erat dengan menjaga ekonomi.
Masalah pokok ekonomi lahir dari kelangkaan, yaitu saat kebutuhan manusia yang nyaris tak terbatas tidak tercukupi oleh alat pemuas kebutuhan yang terbatas. Masalah ini memunculkan tiga pertanyaan penting. Pertama, barang apa yang harus diproduksi, termasuk jenis, jumlah, dan waktu pembuatannya. Kalau salah pilih, bisa rugi besar, seperti memproduksi jaket tebal massal di daerah pantai yang panas, padahal penduduknya lebih butuh pakaian tipis.
Dua pertanyaan lainnya adalah bagaimana cara memproduksi dan untuk siapa barang itu dibuat. Produsen harus memikirkan ketersediaan sumber daya, teknologi yang dipakai, entah manual dengan tenaga manusia atau pakai mesin, serta tenaga kerja yang kompeten. Setelah itu, mereka menentukan siapa konsumennya lewat pembagian pasar, mulai dari kalangan menengah ke bawah sampai menengah ke atas. Harga dan jenis produk menjadi pertimbangan utama agar barang yang dibuat benar-benar laku dan bermanfaat.
Kuis: Pembiasaan Diri dalam Kebutuhan
3 soal · pilih jawaban, lalu klik “Periksa Jawaban”
Pada tahun berapa negara-negara di dunia mulai serius memandang pentingnya pembangunan berkelanjutan lewat Deklarasi SDGs?
Tujuh belas tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) dikelompokkan ke dalam empat pilar, yaitu...
Masalah pokok ekonomi lahir dari...