Korelasi Konsep Sejarah Berkelanjutan dengan Peristiwa Masa Kini terkait Perdagangan Antarwilayah
Peristiwa hari ini selalu punya akar dari masa lalu — begitu juga dengan perdagangan antarwilayah yang sudah berjalan berabad-abad di Nusantara.
Dalam ilmu sejarah, tidak ada peristiwa yang berdiri sendiri. Setiap peristiwa adalah lanjutan dari peristiwa sebelumnya, dan terus berhubungan dari masa lalu, masa sekarang, sampai masa depan. Konsep inilah yang disebut keberlanjutan. Perdagangan antarwilayah di Indonesia adalah salah satu contoh nyata dari konsep ini, karena kegiatannya terus berlangsung dari zaman ke zaman.
Jauh sebelum VOC datang, Nusantara sudah ramai perdagangan. Salah satu buktinya adalah Selat Malaka yang menjadi jalur dagang aktif para pedagang asing, seperti dari Cina dan India. Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Sumatra Selatan diuntungkan karena letaknya dekat Selat Malaka, dan aktif berdagang sejak abad VII sampai XIII dengan komoditas utama rempah-rempah dan emas. Setelah Sriwijaya, Kerajaan Majapahit di Mojokerto, Jawa Timur, juga berkembang dari kerajaan agraris menjadi kerajaan yang kuat di bidang maritim, berdagang ke seluruh Nusantara dengan komoditas rempah-rempah dan beras.
Pada masa kerajaan Islam, perdagangan di Pulau Jawa makin pesat. Kota pelabuhan seperti Jepara, Tuban, Gresik, dan Sedayu tumbuh saling mendukung di sekitar pusat Kerajaan Demak. Rangkaian kota pelabuhan ini mendorong perdagangan yang membentang dari Selat Malaka sampai Maluku. Bahkan pada abad XV, Demak termasuk salah satu kota terkaya di pesisir utara Jawa, dengan beras sebagai komoditas unggulannya.
Memasuki masa kolonial, bangsa Eropa mulai masuk ke Nusantara. Portugis menjalin kerja sama dengan Kesultanan Ternate pada 1512, lalu Spanyol bekerja sama dengan Kesultanan Tidore pada 1521. Belanda kemudian datang dan mendirikan VOC pada 1602, lalu menyusun sistem tata niaga khusus untuk cengkih dan pala di Maluku. Monopoli Belanda memang berhasil, tapi justru menjadi kegagalan bagi masyarakat lokal yang terpinggirkan dan tidak banyak menikmati keuntungan dari kekayaan alamnya sendiri.
Perdagangan antarwilayah terus berlanjut sampai masa kini. Bentuknya pun makin beragam, mulai dari perdagangan antardesa, desa ke kota, antarprovinsi, antarpulau, sampai lintas negara. Transportasinya juga makin maju, baik lewat darat, udara, maupun laut. Salah satu fasilitas yang memperlancar arus barang antarpulau adalah tol laut yang menghubungkan pulau-pulau di Indonesia.
Perdagangan masa kini adalah kelanjutan dari sejarah panjang perdagangan Nusantara. Posisi geografis Indonesia memang strategis, berada di antara dua benua dan dua samudra, sehingga sejak dulu jadi jalur perdagangan internasional. Ditambah kekayaan sumber daya alam yang melimpah dan potensi ekonomi yang berbeda di tiap wilayah, perdagangan antarwilayah pun terus berjalan. Jadi, apa yang terjadi sekarang tidak lepas dari jejak perdagangan masa kerajaan dulu.
Kuis: Korelasi Konsep Sejarah Berkelanjutan dengan Peristiwa Masa Kini terkait Perdagangan Antarwilayah
3 soal · pilih jawaban, lalu klik “Periksa Jawaban”
Dalam ilmu sejarah, tidak ada peristiwa yang berdiri sendiri. Setiap peristiwa merupakan lanjutan dari peristiwa sebelumnya. Konsep ini disebut ....
Kerajaan yang diuntungkan karena letaknya dekat Selat Malaka dan aktif berdagang sejak abad VII sampai XIII dengan komoditas utama rempah-rempah dan emas adalah ....
Pada masa kolonial, Belanda mendirikan VOC pada tahun 1602 dan menyusun sistem tata niaga khusus untuk cengkih dan pala di Maluku. Dampak monopoli Belanda bagi masyarakat lokal adalah ....