Kata Konkret dan Kalimat Perincian
Coba bandingkan dua kalimat ini: 'pemandangannya bagus' dan 'bukit itu ditumbuhi rumput hijau yang berembus pelan oleh angin sore'. Mana yang lebih membuatmu membayangkan?
Kata konkret adalah kata yang merujuk pada sesuatu yang benar-benar berwujud dan bisa ditangkap panca indra. Kata seperti 'meja', 'pasir', 'hujan', atau 'anyir' termasuk kata konkret karena punya wujud nyata. Lawannya adalah kata abstrak seperti 'keindahan' atau 'kebahagiaan' yang tidak bisa dilihat atau diraba.
Dalam teks deskripsi, kata konkret sangat penting. Kata konkret membantu pembaca membayangkan objek dengan jelas. Kalau kamu menulis 'tangan keriputnya', pembaca langsung bisa membayangkan. Tapi kalau kamu menulis 'kakek itu sudah tua', bayangannya jadi kabur.
Selain kata konkret, kamu juga perlu kalimat perincian. Kalimat perincian adalah kalimat yang memecah satu objek menjadi bagian-bagian kecil yang lebih jelas. Contohnya, daripada menulis 'gedungnya tinggi', kamu bisa menulis 'gedung itu menjulang dua puluh lantai dengan kaca berwarna biru di seluruh sisinya'.
Kalimat perincian membuat deskripsi makin hidup. Kamu bisa merinci warna, ukuran, bentuk, tekstur, sampai fungsinya. Tujuannya bukan sekadar panjang, tapi membuat pembaca seolah-olah berada di dekat objek yang kamu gambarkan.
Ada dua kalimat yang sering dipakai untuk merinci, yaitu kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat. Kalimat setara menggabungkan dua hal yang sederajat, misalnya 'pantainya bersih dan airnya jernih'. Kalimat bertingkat menghubungkan bagian utama dengan keterangan, misalnya 'kami berhenti di rumah paman yang terletak di tepi danau'.
Jadi, kalau teks deskripsimu terasa datar, periksa lagi pilihan katamu. Ganti kata-kata umum dengan kata konkret, dan pecah gambaran besarmu menjadi kalimat-kalimat perincian. Dua kunci kecil ini bisa mengubah tulisan biasa menjadi tulisan yang hidup.